Coba bayangkan ketika kita duduk santai di teras,
kemudian berpikir lebih jauh ke dalam dan rasakan. apa yang anda rasakan.
Seharusnya yang anda pikirkan cuma satu. "Bersyukur". Karena ketika
anda duduk santai di teras. dari apa yang anda kerjakan, kita bisa menunduk dan
melihat realita ke bawah. dimana saat duduk santai masih banyak orang yang
bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. kemudian ada diluar sana
banyak orang yang masih ngontrak rumah, rumah belum punya apalagi teras seperti
yang anda punya.
Apalagi anda duduk santai anda sudah punya gaji
tetap tiap bulan, sangat sangat sedih ketika kita masih punya rasa iri dengki
karena persaingan di dunia. Kapan kah kita harus bersyukur, apakah kita harus
merasakan sakit dahulu biar bisa merasakan rasa syukur. Bukankah kita harus
bersyukur setiap hembusan nafas kita. Kadang saya merasa sedih, dimana ada yang sudah punya gaji berlipat dan pasti tapi masih berkutat dengan rasa lapar
dan ngonso.
Yang kemudian, timbul pertanyaan. apakah bekerjanya hanya berorientasi pada uang bukan tujuan utamanya ibadah. Betul kita perlu uang. Tapi ga harus semuanya dinilai dengan uang, bekerjalah untuk beribadah, karena Allah telah memberikan banyak kenikmatan. hasilnya kan sudah jelas kita pasti akan digaji dan jelas jumlahnya lebih dari cukup.
Jangan bilang karena kebutuhan kita banyak. Bahkan mengajukan pinjaman untuk kebutuhan. Seharusnya jangan menyalahkan kebutuhan tapi salahkan sebab akibatnya. Pola hiduplah yang diatur ulang. karena semua itu bermula dari awal. Manajemen lah yang berbicara.
Kalau bekerja hanya karena uang, maka kerjanya ga
ada rasa. Rasanya hanya lelah tiada henti. beda dengan bekerja untuk ibadah,
rasanya penuh dengan syukur.
Dari cerita ini bisa menyimpulkan bahwa semua itu
sudah diatur Allah, kita tinggal bersyukur dan beribadah kepada-Nya.

No comments:
Post a Comment